Kamis, 03 Juli 2014

Ilmu Kealaman Dasar ( Tentang Segehan )











Bab I
Kata pengantar
Om svastyastu
Puja astungkara selalu kami panjatkan kehadapan ida sang hyang widhi wasa atas asungkerta  wara nugraha –Nya kelompok kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.
Pada kesempatan ini tak lupa kelompok kami menyampaikan banyak terima kasih kepada bapak I Wayan kantun,S.Ag.,M.Fil.H selaku pembimbing mata kuliah Ilmu Kealaman Dasar. Dan juga kepada seluruh sahabat yang membantu mengumpulkan referensi  dan memberikan kritik  serta saran yang membangun dalam penyusunan makalah ini. Akhir kata semoga  makalah ini dapat berguna bagi pembaca. Penulis juga menyadari  penulisan makalah ini jauh dari kata sempurna, sehingga kritik dan saran dari rekan pembaca sangat penulis harapkan demi perbaikan penulisan selanjutnya
Akhir kata penulis  ucapkan  terima kasih atas segenap  perhatian  rekan pembaca.
Om santi santi santi om

Penulis

PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Umat Hindu memiliki beragam upakara yang digunakan untuk mengiringi upacaranya. Keanekaragaman upakara tersebut merupakan salah satu ciri khas budaya Hindu di Bali. Berbagai macam persembahan dihaturkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai wujud rasa bhakti dan rasa syukur umat kehada
pan-Nya. Umat Hindu memiliki upakara untuk Upacara Bhuta Yadnya. Yaitu upakara yang dihaturkan kehadapan Para Bhuta Kala, tujuannya adalah untuk menetralisir kekuatan negative menjadi kekuatan positif yang ada di alam semesta ini.
Upakara ini yang disebut segehan. 


1.2 pembatasan masalah
 Penulis mencoba untuk membatasi masalah yang berkaitan erat dengan segahan yaitu :
a.
Apa pengertian dan makna segehan?
b.
Kepada siapa kita menghaturkan segehan?
c. Apa tujuan dari menghaturkan segehan?


1.3 tujuan penulisan
adapun tujuan penulisan sebuah makalah sebagai pencapaian dari :
a. dalam memenuhi tugas kelompok  pada mata kuliah Ilmu Kealaman Dasar
b. adanya keinginan untuk mengetahui makna dari Segehan.

1.4
metode penulisan
Metode penulisan dalam penyusunan makalah ini yaitu dengan cara penulisan studi pustaka sesuai dengan referensi atau juga dari penyimakan-penyimakan buku yang sangat erat kaitannya dengan bahasan pokok

1.5 sistematika penulisan
Sistematikan penulisan makalah ini sebagai berikut :

Bab I Pendahuluan yang berisi latar belakang masalah, pembatasan masalah, tujuan penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan.

Bab II Pokok Bahasan yaitu SEGAHAN

Bab III Penutup yang berisi Kesimpulan dan saran

Bab IV sumber buku.



Bab  II
Pembahasan
2.1 pengertian dan makna  segahan
            sebelum kita melangkah pada pembahasan Segehan, penulis sedikit menuliskan tentang budaya Hindu atau Hindu yang di bali yang memiliki budaya yang begitu identik dengan Upakara yang memiliki nilai nilai luhur yang begitu besar, hal ini perlu kita sadari sebagai umat Hindu di zaman sekarang, agar nilai nilai luhur tersebut tidak luntur. Pada umumnya upakara berbentuk materi, dan bentuk materi dari pada upakara - upakara tersebut di sebut BANTEN. pada banten inilah biasanya SEGEHAN sering sebagai pelengkap untuk di haturan atau di persembahkan kepada para Bhutakala dan  juga Ancangan Iringan Para Btara dan Betari yang hadir pada pelaksanaan Upakara atau Upacara tersebut.
            Oleh karena itu banten serta segehan di bali merupakan cirri Khas yang unik yang menciptakan daya cipta yang religious yang mengandung nilai Magis, serta mengandung budaya seni dan adat. Dengan hal tersebut maka terunngkaplah suatu nilai luhur yang tiada tandingnya banten yang mempunyai daya seni dan keagungan yang luhur, sehingga
memberi andil untuk menjadikan Bali terkenal di seluruh dunia.
Maka khususnya kita dari segi umat  Hindu yang hidup pada zaman sekarang ini, dimana telah terpampang di depan mata kita suatu gejolak, kehidupan yang mempertandingkan antara sadar dan tidak sadar, adanya suatu rongrongan akan merosotnya budaya  bangsa ini, karena kita lebih cendrung mempergunakan uang dari pada kita mempergunakan hati, persaan, dan bhakti.
Besar kecilnya upacara atau yadnya, bagi mereka yang biasa hidup dalam kemanjaan seolah olah mengundang kelesuan dan keluhan. Padahal bila kita melihat sastra –sastra Hindu telah banyak menuliskan bahwa tuhan yang maha esa menciptakan alam semesta beserta isinya dengan menggunakan yadnya. Di sinilah letak kurangnya pemahaman tentang yadnya. Berkaitan dengan itu semua maka belum terlambat untuk kita mempelajari masalah yadnya yang merupakan cetusan hati suci, rasa terimakasih atas berkah hidup yang telah kita terima dari ida sang hyang widhi. Tidak perlu kita khawatir tentang banyak macam yadnya sukarnya cara membuat serta kadang – kadang ada bahan bahan dari yadnya dalam bentuk upakara tersebut sangat sulit pula untuk di cari, namun bila di landasi dengan rasa penuh keiklasan serta ketekunan dan mau mempelajarinya, maka secara otomatis kita akan merasakan kebahagiaan dam kepuasan batin. Adapun salah satu yadnya yang sudah sering kita lakukan baik di rumah ataupun di tempat tempat suci lainya, seperti menghaturkan segehan biasanya segehan di haturkan kepada para Bhutakala dan  juga Ancangan Iringan Para Btara dan Betari, yadnya ini memiliki tujuan agar terjalinnya suatu hubungan yang harmonis, dengan hubungan yang harmonis maka secara langsung kebahagiaan akan terciptakan, sebagai contoh : sebuah keluarga sederhanya yang harmonis meraka merasakan kebahagiaan yang begitu besar, seperti itulah hendaknya kita menjalani hidup ini.
            Dalam upacara bhuta yadnya dalam tingkatan yang kecil di sebut dengan segehan.
Kata segehan, berasal kata "Sega" berarti nasi (bahasa Jawa: sego). Oleh sebab itu, banten segehan ini isinya didominasi oleh nasi dalam berbagai bentuknya, lengkap beserta lauk pauknya. Bentuk nasinya ada berbentuk nasi cacahan (nasi tanpa diapa-apakan), kepelan (nasi dikepal), tumpeng (nasi dibentuk kerucut) kecil-kecil atau dananan. Wujud banten segehan berupa alas taledan (daun pisang atau janur), diisi nasi, beserta lauk pauknya yang sangat sederhana seperti “bawang merah, jahe, garam”. Dipergunakan juga api takep (dari dua buah sabut kelapa yang dicakupkan menyilang, sehingga membentuk tanda + atau swastika), bukan api dupa. disertai beras dan tatabuhan air, tuak, arak serta berem.
Segehan artinya "Suguh" (menyuguhkan), dalam hal ini
segehan di haturkan kepada para Bhutakala dan  juga Ancangan Iringan Para Btara dan Betari, yang tak lain adalah akumulasi dari limbah/kotoran yang dihasilkan oleh pikiran, perkataan dan perbuatan manusia dalam kurun waktu tertentu. Dengan segehan inilah diharapkan dapat menetralisir dan menghilangkan pengaruh negative dari limbah tersebut. Segehan adalah lambang harmonisnya hubungan manusia dengan semua ciptaan Tuhan (palemahan).
Bhuta Kala dari kaca spiritual tercipta dari akumulasi limbah pikiran, perkataan dan perbuatan manusia, yang dipelihara oleh kosmologi semesta ini. Jadi segehan yang dihaturkan di rumah bertujuan untuk mengharoniskan kembali kondisi rumah terutama dari sisi niskalanya, yang selama ini terkontaminasi oleh limbah yang kita buat. Jadi Caru yang paling baik adalah bagaimana kita dapat menjadikan rumah bukan hanya sebagai tempat untuk tidur dan beristirahat, tapi harus dapat dimaknai bahwa rumah tak ubahnya seperti
badan yang kita miliki yang sudah seharusnya untuk kita jaga dan kita rawat agar tetap sehat.
Segehan dihaturkan kepada aspek Sakti (kekuatan) yaitu Dhurga lengkap dengan pasukannya termasuk Bhuta Kala itu sendiri. Segehan dan Caru banyak disinggung dalam lontar Kala Tattva, lontar Bhamakertih.
Dalam Susastra Smerti (Manavadharmasastra) ada disebutkan bahwa setiap kepala keluarga hendaknya melaksanakan upacara Bali (suguhan makanan kepada alam) dan menghaturkan persembahan di tempat-tempat terjadinya pembunuhan, seperti pada ulekan, pada sapu, pada kompor, pada asahan pisau, pada talenan.
Segehan ini adalah persembahan sehari-hari yang dihaturkan kepada Kala Buchara / Buchari (Bhuta Kala) supaya tidak mengganggu. Penyajiannya diletakkan di bawah / sudut-sudut natar Merajan / Pura atau di halaman rumah dan di gerbang masuk bahkan ke perempatan jalan.
Ada beberapa macam segehan yang di haturkan baik setiap hari maupun pada hari hari tertentu.

2.2  macam –macam segahan                                                                     

2.2.1. Macam - macam segehan:
A. Segehan Kepel Putih
Segehan kepel putih ini adalah segehan yang paling sederhana dan biasanya seringkali di haturkan setiap hari.
B. Segehan Putih Kuning
Sama seperti segehan putih, hanya saja salah satu nasinya diganti menjadi warna kuning.
biasanya segehan putih kuning ini di haturkan di bawah pelinggih adapun doanya sebagai berikut :
Om. Sarwa Bhuta Preta Byo Namah.

Artinya :
 Hyang widhi ijnkanlah hamba menyuguhkan sajian kepada bhuta  preta  seadanya.


C. Segehan Kepel Warna Lima (Manca Warna)
Sama seperti segehan kepel putih, hanya saja warna nasinya menjadi 5, yaitu putih, merah, kuning, hitam dan brumbun.
Dan penempatan warna memiliki tempat atau posisi yang khusus sebagi contoh ;

Warna Hitam menempati posisi Utara.
Warna Putih menempati posisi Timur.
Warna merah menempati posis selatan.
Warna kuning menempati posisi Barat.
Sedangkan Warna Brumbun atau kombinasi dari ke empat warna di atas menempati
               posisi di tengah tengah, yang bisa di katakan Brumbun tersebut sebagai Pancernya.
Segehan Manca Warna ini biasanya di letakkan pada pintu masuk pekarangan (lebuh pemeda­l) atau di perempatan jalan adapun doa dari segehan manca warna ini adalah :
           
Om. Sarwa Durga Prate Byo Namah.
Artinya :
            Hyang Widhi Ijinkan Hamba Menyuguhkan Sajian Kepada Durga Prete Seadanya





D. Segehan Cacahan
Segehan ini sudah lebih sempurna karena nasinya sudah dibagi menjadi lima atau delapan tempat. sebagai alas digunakan taledan yang berisikan tujuh atau Sembilan buah tangkih.
kalau menggunakan 7 (tujuh) tangkih; 

• 5 tangkih untuk tempat nasi yang posisinya di timur, selatan, barat, uatara dan tengah.
• 1 tangkih untuk tempat untuk lauk pauknya yaitu bawang, jahe dan garam.
• 1 tangkih lagi untuk tempat base tampel, dan beras.
• kemudian diatas disusun dengan canang genten.
Kalau menggunakan 11 (sebelas) tangkih:
• 9 tangkih untuk tempat nasi yang posisinya di mengikuti arah mata angin.
• 1 tangkih untuk tempat untuk lauk pauknya yaitu bawang, jahe dan garam.
• 1 tangkih lagi untuk tempat base tampel, dan beras.
• kemudian diatas disusun dengan canang genten.

Keempat jenis segehan diatas dapat dipergunakan setiap kajeng kli
won atau pada saat upacara–upacara kecil, artinya dibebaskan penggunaanya sesuai dengan kemampuan.

E. Segehan Agung
Merupakan tingkat segehan terakhir. Segehan ini biasanya dipergunakan pada saat upacara piodalan, penyineban Bhatara, budal dari pemelastian, serta menyertai upacara Bhuta Yadnya yang lebih besar lainnya. Adapun isi dari segehan agung ini adalah; alasnya ngiru/ngiu, ditengahnya ditempatkan daksina penggolan (kelapanya dikupas tapi belum dihaluskan dan masih berserabut), segehan sebanyak 11 tanding, mengelilingi daksina dengan posisi canangnya menghadap keluar, tetabuhan (tuak, arak, berem dan air), anak ayam yang masih kecil, sebelum bulu kencung ( ekornya belum tumbuh bulu yang panjang) serta api takep (api yang dibuat dengan serabut kelapa yang dibuat sedemikian rupa sehingga membentuk tanda + atau tampak dara).

Adapun maksud simbolik banten ini adalah :
• alasnya ngiru/ngiu, merupakan kesemestan alam
• daksina, simbol kekuatan Tuhan
• segehan sebanyak 11 tanding, merupakan jumlah dari pengider-ider (9 arah mata angindan arah atas bawah) serta merupakan jumlah lubang dalam tubuh manusia diantaranya; 2 lubang mata, 2 lubang telinga, 2 lubang hidung, 1 lubang mulut, 1 lubang dubur, 2 lubang kelamin serta 1 lubang cakra (pusar).
• Zat cair yaitu arak (putih/Iswara), darah (merah/Brahma), tuak (kuning/Mahadewa), berem (hitam/Wisnu) dan air (netral/siwa).
• anak ayam, merupakan symbol loba, keangkuhan, serta semua sifat yang menyerupai ayam
• api takep, api simbol dewa agni yang menghancurkan efek negatif, dan bentuk + (tampak dara) maksudnya untuk menetralisir segala pengaruh negatif. 
Adapun tata cara saat menghaturkan segehan adalah pertama menghaturkan segehannya dulu yang berdampingan dengan api takep, kemudian buah kelapanya dipecah menjadi lima, diletakkan mengikuti arah mata angin, kemudian anak ayam diputuskan lehernya sehingga darahnya menciprat keluar dan dioleskan pada kelapa yang telah dipecahkan tadi, telor kemudian dipecahkan, di”ayabin” kemudian ditutup dengan tetabuhan. Doa dalam menghaturkan segehan ini adalah :

            Om. Arwa kala perete byo namah.
Artinya :
            Hyang Widhi Ijinkanlah Hamba Menyuguhkan Sajian Kepadakala Preta Seadanya.

Setiap menghaturkan segehan lalu di siram dengan tetabuhan, tetabuhan ini bisa menggunakan air putih yang bersih, atau tuak, brem, dan arak. Dengan cara mengelilingi segehan yang di haturkan. Ketoka menyiram atau menyiratkan kita ucapkan doa :
            Om. Ibek Segar, Ibek Danu, Ibek Bayu, Premananing Hulun.
Artinya :
             Hyanng widhi semoga hamba di berkahi bagaikan melimpahnya air laut, air danau, dan memberi kesegaran jiwa dan batin hamba.

Ada beberapa hal yang harus kita ketahui yaitu mesegeh bedadengan mejotan atau Yadnya Sesa. Mesegeh di tunjukan kepada Bhuta kala sebenarnya bukan untuk mengusir Bhuta kala, namun kita memberikan ajengan atau suguhan agar para Bhuta kala tidak mengganggu atau bahasa balinya “Grebeda” hal ini lah yang sering di salah artikan oleh umat yang kurang memahami tentang tatanan mesegehan. Sesungguhnya di dalam  RG. Veda sudah di katakan dan di jelaskan pada istilah Bhuta ya, Dewa ya. Artinya ini adalah meraka adalah Makhluk yang sama.   Sama - sama ciptaan tuhan, namun dalam posisi sifat yang berbeda karena itu mesegeh lebih berarti Nyomnya (mengubah sifat – sifat) Bhuta kala supaya menjadi sifat dewa Dengan  begitu persembahyangan dan segala kativitas yang kita lakukan tidak lagi di pengaruhi oleh Bhuta kala. jadi kita dapat mengambil kesimpulan bahwa mesegeh yang kita lakukan sebenarnnya bukan untuk mengusir para huta kala. Hal ini perlu kita sadari.

2.2.2. Unsur – unsur segehan :
 • Alas dari daun / taledan kecil yang berisi tangkih di salah satu ujungnya. taledan = segi 4, melambangkan   arah mata angin.
• Nasi putih 2 kepal, yang melambangkan rwa bhineda
• Jahe, secara imiah memiliki sifat panas. Semangat dibutuhkan oleh manusia tapi tidak boleh emosional.
• Bawang, memiliki sifat dingin. Manusia harus menggunakan kepala yang dingin dalam berbuat tapi tidak boleh bersifat dingin terhadap masalah-masalah sosial (cuek)
• Garam, memiliki PH-0 artinya bersifat netral, garam adalah sarana yang mujarab untuk menetralisir berbagai energi yang merugikan manusia (tasik pinaka panelah sahananing ngaletehin).
• Di atasnya disusun canang genten.
• Tetabuhan Arak, Berem, Tuak, adalah sejenis alkhohol, dimana alkhohol secara ilmiah sangat efektif dapat dipakai untuk membunuh berbagai kuman/bakteri yang merugikan. Oleh kedokteran dipakai untuk mensteril alat-alat kedokteran. Metabuh pada saat masegeh adalah agar semua bakteri, Virus, kuman yang merugikan yang ada di sekitar tempat itu menjadi
hilang/mati.

Bab III
Penutup
3.1 Kesimpulan
Mesegehan adalah caru kecil yang biasa kita lakukan sehari – hari, tujuan dalam menghaturkan segehan adalah untuk menyuguhkan atau memberi suguhan kepada para Bhuta kala agar para Bhuta kala  tidak menggangu atau Grebeda di setiap aktivitas kita,   Dalam menghaturkan segehan haruslah di landasi dengan rasa ihklas, sebab menghaturkan, menyuguhkan, ataupun memberi, bila di landasi dengan rasa yang tulus ihklas maka itulah yang di sebut yadnya, Sebab yadnya adalah pengorbanan yang tulus ihklas.




3.2 kritik dan saran
Sebagai manusia biasa yang memiliki batas – batas kemampuan di dalam menjalani kehidupan, sering kali terjadi kesalahan atau kekeliruan yang tak di sengaja. Kami sebagai Maha siswa yang haus akan Ilmu pengetahun memberanikan diri untuk menguraikan makna dan tujuan Segehan, bila ada kesalahan kata atau kekurangan dari makalah kami, dengan rendah hati kami harapkan kritik dan saran dari pembaca, sebab kritik dan saran pembaca merupakan Acuan dari pembelajaran kami agar bisa menjadi yang lebih baik. Di dalam menulis makalah.
            Di sini ada sedikit ungkapan yang membuat kami sadar akan keberadaan manusia yang tak luput dari kesalahan
Tan hana tanpa hulus
Tak ada manusia yang sempurna.
Dari kata di atas kami ucapkan kata maaf kami, jika ada kekeliruan atau kekurangan dari makalah kami.


Bab IV. Sumber buku :
-          Seri 1 upakara yadnya, melangkah kea rah persiapan upakara-upacara yadnya, Ida Putu Surayin.
Penerbit : paramita Surabaya 2004.
-          Kumplan doa mesegeh (bhuta kala)
Penerbit : pustaka manic geni 2008
-          RG. Veda. I Wayan Maswinara.
Penerbit : paramita Surabaya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar